css

Senin, 10 Februari 2014

Tugas pustakawan
Pustakawan adalah seorang yang ahli dalam bidang perpustakaan yang diperoleh melalui pendidikan atau pelatihan, dan bisa membantu orang dalam pencarian buku, majalah, dan informasi lain, serta mengelola dan mengatur dokumen atau laporan yang ada dalam perpustakaan. Seorang pustakawan dapat memberikan pelayanan yang baik kepada pengguna perpustakaan.
Pustakawan sebagai tenaga kependidikan supaya dapat dan berhak dalam melakukan kegiatan pendidikan, mengajar, membimbing, menyuluh, menulis karya ilmiah, melakukan penelitian, pengadaan bahan pustaka, pencarian dan pengelolaan sumber informasi, menyediakan informasi (karya cetak, karya rekam, dan multi media), pengkajian untuk pengembangan perpustakaan, dokumentasi, dan informasi, pengembangan profesi. Pustakawan bisa mengerjakan tugas-tugas yang ada diperpustakaan baik secara individu maupun kelompok.

Jumat, 11 Mei 2012

Biarkan Kedamaian Bicara

       Dalam jangka waktu yang amat lama, wacana publik kita ditandai oleh kekerasan yang memperkuda kedamaian. Tidak hanya setelah republik ini merdeka, jauh sebelumnyapun sejarah kita sudah ditandai oleh wajah- ajah kekerasan di sana-sini. Di Jawa Barat sana, banyak orang yang tingkat penghormatannya lebih rendah di bandingkan daerah Jawa lainnya terhadap nama Gajah Mada. Apa lagi yang ada di balik ini semua kalau bukan sejarah kekerasan. Sejarah masa penjajahan apa lagi.  Bercak dan aliran darah ada di mana-mana. Dulunya, setelah kemerdekaan direbut dan pembangunan dijalankan, diharapkan bercak dan aliran darah bisa dihilangkan. Nyatanya, baik di masa orde lama, orde baru, bahkan sampai sekarangpun ia masih menjadi berita di hampir setiap media. Ambon, Poso, Aceh, Irian Jaya, Jakarta hanyalah sebagian saja dari sekian banyak kekerasan mengerikan, tapi menjadi santapan wacana yang digemari. Belum lagi ditambah dengan kekerasan-kekerasan tersembunyi lainnya. Industri keuangan dan perbankan yang dirampok orang di sana-sini. Uang negara yang dijarah dari dulu hingga sekarang. Hubungan industrial yang ditandai banyak demonstrasi, pemogokan, pembakaran dan sejenisnya. 

       Dan deretan panjang kekerasan lainnya. Entah mana yang lebih mewakili. Sejarah manusia yang memang membawa kekerasan ke mana-mana, atau karena publik lebih tertarik dengan topik-topik kekerasan. Yang jelas, sulit diingkari kenyataan, semakin banyak berita kekerasan muncul dalam wacana publik, semakin laris medianya, serta semakin banyak orang mau membaca dan terlibat wacana. Anda mungkin sudah mahfum, beberapa tokoh publik dan organisasi masyarakat " kalau tidak mau dikatakan kebanyakan " malah "mendulang" hasil dari kekerasan. Buktinya, setelah kekerasan muncul, mereka muncul sebagai pahlawan, penyelamat, bahkan ada yang menjadi penguasa baru. Kadang saya malah bertanya penuh keraguan, tidakkah rezim yang sedang berkuasa ini adalau output dari mesin raksasa yang bernama kekerasan? Kalau mesinnya mesin kekerasan, adilkah kalau kita mengharapkan output kedamaian dari sana? Anda jawab sendirilah pertanyaan-pertanyaan penuh keraguan tadi. Yang jelas, dengan resiko ditertawakan orang, ada tidak sedikit orang yang berharap agar kedamaian diberi kesempatan untuk berbicara. Boleh saja dia tidak menarik selera wacana banyak orang. Tidak membuat media menjadi laris manis. 

        Tidak juga menghasilkan pahlawan dan penyelamat. Akan tetapi, bukankah menjadi hak azasi setiap orang untuk hidup damai?  Dibandingkan terlalu banyak bertanya, mari kita sama-sama ulas persoalan dianaktirikannya kedamaian oleh kekerasan. Mereka yang diteropong oleh Naisbitt masuk ke dalam kotak spirituality yes, formal religion no, mungkin menyebut agama telah gagal. Mereka yang antikekuasaan akan menunjuk hidung kekuasaan sebagai biang keladi. Pemerhati pendidikan lain lagi, mereka menuduh lembaga terakhir sudah tidak berfungsi lagi sebagai pembawa misi perdamaian. Izinkan saya meneropong persoalan ini di tingkat individu. Ada sebuah kualitas pribadi yang berperan besar dalam memproduksi kekerasan. Dia bernama Aku.

       Dalam keakuan, banyak sekali hal yang sebenarnya berasal dari kedamaian sekalipun, bisa berubah menjadi kekerasan. Bibit-bibit keakuan terakhir bisa bersumber dari keyakinan dan perasaan benar, harga diri yang tinggi, keserakahan akan harta dan tahta, dll. Coba bayangkan sepasang suami isteri yang sudah sejak lama hidup damai di hutan tanpa gangguan berarti. Suatu hari, ada kebutuhan untuk sekali-sekali bertengkar satu sama lain. Dan sepakatlah mereka untuk memulai pertengkaran. Sang isteri berkata dengan nada membentak: "ini ketela kesukaanku!".

      Dan suaminya berfikir sejenak, kemudian menjawab dengan penuh kesabaran: "ya itu memang kesukaanmu, dan marilah kita makan sama-sama seperti biasa". Maka, batallah pertengkaran yang sudah direncanakan terlebih dahulu ini. Cerita ilustratif ini menunjukkan, keakuan memang sudah menjadi sumber pertengkaran di mana-mana. Namun, kesediaan dan kesabaran untuk senantiasa awas dengan keakuan tadi, sudah dan akan terus membantu proses menuju kedamaian. Bedanya dengan kekerasan yang datang tanpa diundang, kedamaian memerlukan "undangan" khusus agar dia datang. Demikian khususnya, sehingga memerlukan biaya yang amat besar. Salah satu laporan majalah Fortune, (maaf saya lupa edisinya) pernah melaporkan sebuah kecenderungan yang mereka sebut dengan the new corporate mystiques. Ternyata, apa yang mereka sebut dengan mistik-mistik baru dunia usaha adalah kecenderungan sejumlah raksasa usaha di sana, untuk mengundang sejumlah rahib Buda sebagai pelatih. Bukan untuk mengajak orang masuk agama Buda. Melainkan, mengajari ekskekutif hidup dalam kedamaian.

       Kedamaian (demikian mereka meyakini) adalah syarat utama dari produktivitas. Dalam kedamaian, kita bisa melakukan dan mencapai lebih banyak hal. Mirip dengan keluarga di rumah, apa yang bisa kita capai kalau setiap hari isinya hanya pertengkaran? Ada yang bertanya, bukankah kedamaian akan lebih terasa nikmatnya kalau kita pernah mengalami kerusuhan ? Tentu saja. Sebab, kehidupan merupakan hasil dari dialektika. Dan dialektika terakhir, sulit diharapkan berhasil optimal kalau salah satunya jauh lebih dominan dibandingkan yang lain. Mirip dengan kehidupan kita sekarang-sekarang ini, terutama dengan hadirnya kekerasan di banyak pojokan ruang publik.

Akankah kita biarkan kedamaian menjadi kuda bisu yang ditunggangi kekerasan?

Amanah dan Adil sebagai asas penyelenggara’an Negara

Pengertian dari amanah dan adil yaitu :
Amanah adalah kata yang sering dikaitkan dengan kekuasaan dan materi. Namun sesungguhnya kata amanah tidak hanya terkait dengan urusan-urusan seperti itu. Secara syar’i, amanah bermakna: menunaikan apa-apa yang dititipkan atau dipercayakan. Itulah makna yang terkandung dalam firman Allah swt.: “Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menunaikan amanah-amanah kepada pemiliknya; dan apabila kalian menetapkan hukum di antara manusia hendaklah kalian menetapkan hukum dengan adil.” (An-Nisa: 58)
Itu juga di perjelas dengan sabda Rasulullah saw., “Setiap kalian adalah pemimpin dan karenanya akan diminta pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya. Amir adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban tentang mereka. Lelaki adalah pemimpin di tengah keluarganya dan ia akan diminta pertanggungjawaban tentang mereka. Seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan atas anak-anaknya dan ia akan diminta pertanggungjawaban tentangnya.
Adil asal kata nya dari bahasa arab ‘adala, alih bahasa nya adalah lurus.
secara istilah berarti menempatkan sesuatu pada tempat/aturan nya, lawan katanya adalah zalim/aniyaya {meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya}.
Dari pengertian di atas bahwasanya adil dan amanah itu saling keterkaitan dalam suatu penyelenggara’an suatu Negara, karena apabila dalam suatu Negara yang dipimpin oleh seseorang yang tidak menggunakan asas adil dan amanah tersebut maka akan hancur Negara yang di pimpinnya. Perlu kita ketahui bahwasanya seseorang yang akan mencalonkan diri sebagai pemimpin suatu Negara maka dia akan memberikan suatu janji yang isi janji tersebut pasti adalah sebuah kepemimpinan yang adil dan amanah demi tercapainya suatu keadilan bagi masyarakat dan tercapainya sebuah aspirasi dari masyarakat tersebut.
Akan tetapi bukti nyata dari janji tersebut tidak seperti yang di janjikan oleh masyarakat, padahal terbentuknya suatu Negara yang aman dan tentram itu karna adanya suatu kepemimpinan yang adil dan amanah.

Sabtu, 21 April 2012

TRANSFORMASI DEMOKRASI DAN OTONOMI DALAM TATA PEMERINTAHAN DESA


Penelitian  ini membicarakan Transformasi Demokrasi dan Otonomi dalam tata Pemerintahan Desa Mengwi Era Transisi: Perspektif Kajian Budaya. Dalam memahami persoalan  ini dicermati sosok tata pemerintahan desa seiring berakhirnya kekuasaan Orde Baru. Dalam era transisi yang dimulai sejak 1998 terjadi pergeseran sistem  pemerintahan dari yang berorientasi pada negara ke masyarakat, dari sistem otoritarian ke egalitarian, dan dari praktik pemerintahan (government) menjadi tata pemerintahan (governance). Kondisi ini disertai dengan implementasi kebijakan demokratisasi dan desentralisasi hingga ke tingkat desa yang menggeser pola hubungan kekuasaan antara pemerintah pusat-daerah dengan desa.
Namun, masih ada beberapa persoalan yang muncul dalam pelaksanaan kebijakan tersebut, khususnya di tingkat desa. Adanya kesenjangan antara kenyataan (das sollen), yakni masih adanya persoalan hubungan dalam sistem dualitas desa dan harapan (das sein) bagi terwujudnya tata pemerintahan di tingkat desa mendorong dilaksanakannya penelitian ini. Persoalan khusus yang dicermati adalah transformasi demokrasi dan otonomi desa yang terjadi selama era transisi, yakni era pascakeruntuhan rezim Orde Baru (1998-2008).